Imam Projo Bertekad Untuk ‘Bertobat’ Dalam Karya Katekese

Imam Projo Bertekad Untuk ‘Bertobat’ Dalam Karya Katekese

12 May 2012
Penulis: Pena Katolik
Imam projo bertekad untuk ‘bertobat’ dalam karya katekese

(MUNTILAN (PEN@ Indonesia) – Setelelah menerima masukan, melakukan kunjungan, dialog dan diskusi kelompok, para imam diosesan (projo) dari 30 keuskupan di Indonesia bertekad, sambil mengajak semua rekan imam yang lain, untuk “bertobat” dalam karya katekese.

Bertobat, tulis mereka dalam “Butir-Butir Pembelajaran Imam dan Katekese” yang dikeluarkan tanggal 12 Mei 2012, berarti “berani menjadi imam tahan uji, punya komitmen kuat, spiritualitas, kemampuan berorganisasi dalam membangun jaringan, serta berani memulai, terjun, dan terlibat langsung di tengah masyarakat untuk mewartakan iman.”

Sebanyak 61 imam diosesan, yang mengikuti kegiatan Bina Lanjut Imam Diosesan Indonesia bertema “Imam dan Katekese” di Rumah Retret Santo Fransiskus, Muntilan, 8-12 Mei 2012, sepakat bahwa para imam tidak boleh melupakan bahwa kateksese sebagai pewartaan iman adalah tugas penting dan identitas Gereja dari Tuhan Yesus sendiri.

Unio Indonesia melaksanakan kegiatan itu sesuai amanat para uskup dari hari studi Sidang Tahunan KWI 2011 dengan tema: “Mewartakan Injil adalah rahmat dan panggilan khas Gereja, merupakan identitasnya yang terdalam” (EN 14).

“Kami para imam sebagai ‘katekisnya para katekis’ mempunyai peran dan tanggung jawab besar untuk bekerja sama, menghargai, membina, melatih, memberi kesempatan, serta menyediakan sarana dan dana untuk mendukung katekis purna waktu dan awam pelaksana karya katekese lain agar semakin mampu dan terampil melaksanakan karya katekese di tengah umat dan masyarakat,” tulis para imam.

Sebagai kepala paroki, mereka “adalah penanggung jawab utama dalam karya katekese yang bertugas merencanakan, mengkoordinasikan, dan melaksanakan karya katekese agar iman umat semakin hidup, disadari, dan penuh daya.”

Maka, sambil mengajak semua rekan dan calon imam, para imam mengungkapkan tekad “untuk terus mengasah diri serta mengembangkan berbagai strategi, pendekatan, terobosan baru, metode, bahan, sarana, media, ketersediaan dana, pelatihan, dan keterampilan berkatekese, khususnya katekese anak dan remaja, katekese kontekstual dan kebudayaan, katekese dan kerukunan umat beragama, katekese sosial, katekese audio visual, dan katekese kunjungan.”

Kesepakatan diambil juga oleh regio-regio. Regio Sumatera sepakat melakukan pertemuan Unio bertema Imam dan Katekese, di Padang, September 2012, dan bina lanjut dengan kateksese sebagai salah satu bahan bagi imam usia tahbisan 6-10 tahun di Lampung, 30 Oktober-2 November 2012.

Sementara itu Regio Jawa akan melakukan Pertemuan Unio Regio Jawa tentang imam dan pola hidup sehat di Jakarta, 3-7 September 2012, serta Studi bersama di Studio Audio Visual Puskat Sinduharjo tentang keterampilan katekese audio visual awal November 2012.

Rekoleksi Plus Bina Lanjut bertema ‘Imam dan Katekese’ akan dilakukan Regio Kalimantan Barat di Wisma Tabor, Sanggau, 11-14 Juni 2013, untuk uskup, imam, dan katekis purna waktu; dan Rekoleksi Imam Diosesan dengan tema yang sama oleh Regio Kalimantan Timur, 9-10 Oktober 2012. Selanjutnya, 22-27 Juni 2013, Regio Kalimantan Timur akan mengadakan Pekan Studi Imam Diosesan dan Katekis Profesional di Catholic Center Samarinda.

Selain Bina Lanjut tentang katekese, Oktober 2012, Regio MAM (Manado, Amboina, Makassar) akan mengadakan pelatihan katekis dan penggiat katekese tentang media audio visual dan metode naratif di bulan Maret 2013.

Regio Nusra untuk menekankan tema umum ‘Katekese Orang Muda”, pelatihan katekese kontekstual untuk Keuskupan Denpasar, dan Regio Papua menyepakati lokakarya tentang Imam dan Katekese di Timika 1-5 Juli 2013.

Tekad dan kesepatan itu diambil setelah para imam diosesan belajar tentang situasi katekese di Indonesia dari Sekretaris Eksekutif Komisi Kateketik KWI Pastor FX Adi Susanto SJ, Katekese Anak dan Remaja dari aktivis bidang pembinaan anak dan psikologi anak TVO Ratna Tjandrasari, Peran Imam dan Katekese dari Pastor M. Sumarno Ds SJ, dan Perintah Agung Penginjilan dari Pastor Gabriel Notobudyo.

Peserta diperkaya dengan kunjungan ke Museum Misi Muntilan dan Pusat Animasi Misioner bersama Pastor M. Nur Widipranoto Pr, Paroki Sumber bersama Pastor Agung Luhur Prihadi Pr dan Pastor Yohanes Maryono Pr, Paroki Somohitan bersama Pastor Yoseph Suyatno Hadiatmodjo Pr dan Pastor Y Agus Purwadi Pr, dan Studio Audio Visual Sinduharjo bersama Pastor Yoseph Iswarahadi SJ.

Ketua Unio Indonesia Pastor Gusti Bagus Kusumawanta Pr berharap agar dengan program itu setiap paroki memiliki katekese menyeluruh dan berkesinambungan sejak usia dini dan sekolah sampai usia lanjut, dan para imam menyadari aneka dokumen resmi Gereja terkait dengan jiwa misioner dan karya katekese, menyadari tugas dan tanggungjawab imam sebagai penanggungjawab karya katekese di dalam Gereja sebagai tindak lanjut dari studi para uskup dalam sidang KWI, November 2011, menyadari situasi jaman dan perkembangan yang tak terelakkan dengan kemajuan teknologi, dan mencari cara, metode dan kemungkinan dalam pewartaan Injil yang menjawab kebutuhan jaman.

Menurut mantan ketua Unio Indonesia, Pastor Staniuslaus Ferry Sutrisna Wijaya Pr, masukan para narasumber menegaskan kembali pentingnya karya katekese sebagai panggilan, rahmat, dan identitas Gereja untuk mewartakan Kabar Gembira di dunia. “Masukan mereka menegaskan kembali bahwa imam adalah katekisnya para katekis baik yang purna waktu maupun umat sukarelawan dan para pastor paroki adalah penanggung jawab utama karya katekese di parokinya,” kata Pastor Ferry.

Maka, tegas imam itu, pastor paroki harus aktif menggerakkan, mengkoordinasi, mendampingi, melatih, dan mendukung katekis purna waktu dan awam sukarelawan “agar bersama imam di paroki melaksanakan karya katekese yang menjangkau semua umat dan akhirnya menyentuh masyarakat.”

Dukungan, jelasnya, mencakup sarana, prasarana, pelatihan, gaji, dan tunjangan kehidupan yang perlu disediakan paroki. Imam itu juga berharap agar umat paroki mendukung dan menghargai para katekis purna waktu maupun awam sukarelawan yang memberikan hidup mereka bagi karya katekese.

Pastor Floribertus Yosef Swastantoro Pr dari Timika merasa program itu mengingatkan kembali bahwa katekase adalah tugas utama seorang imam, “dan akibatnya saya mesti harus juga memperhatikan sungguh-sungguh katekis di paroki yang selama ini mungkin tak terpikirkan oleh saya.”

Persoalannya, imam itu kuatir bahwa menggaji katekis akan menular bagi orang lain. “Nanti Gereja menjadi lembaga yang menghasilkan uang, padahal kenyataannya sangat berbeda. Gereja di Papua masih dalam keadaan miskin,” katanya kepada PEN@ Indonesia.

Pastor Agus Arbol Pr dari Keuskupan Amboina mengatakan bahwa dia tertarik mengetahui bahwa banyak imam berani menggaji satpam untuk kenyamanan pastor tapi tidak menggaji katekis. “Kita perlu memperhatikan katekis karena mereka adalah mitra kerja kita.”

Memang tema yang dibicarakan dalam program bina lanjut itu relevan dengan yang dibicarakan di keuskupannya dalam Muspas Keuskupan Amboina Februari 2012 tentang Peran Imam dalam Katekese. Namun, dari program itu imam itu akan lebih memperhatikan anak-anak sebagai salah satu objek kaekese, karena mereka bukan lagi penerus tapi penentu.”

Program itu memperlihatan banyak contoh nyata dari para imam yang memberi jiwa bagi katekse dalam budaya lokal Jawa. Ini menarik bagi Pastor Paulus Tri Prasetijo Pr dari Keuskupan Bandung. Namun, katanya kepada PEN@ Indonesia, konteks budaya itu berbeda dengan konteks budaya di keuskupannya dengan umat dari berbagai suku, dan kebudayaan urban lebih dominan daripada latar belakang etnisnya. “Namun, saya akan cari peluang yang bisa ditemukan dalam konteks umat kami!”

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!